Minggu, 06 Januari 2013

MENUJU BANGSA YANG BERKARAKTER



Ø  MENUJU BANGSA YANG BERKARAKTER
Membangun Bangsa Berkarakter karakter bangsa terbangun atau tidak sangat tergantung kepada bangsa itu sendiri. Bila bangsa tersebut memberikan perhatian yang cukup untuk membangun karakter maka akan terciptalah bangsa yang berkarakter. Bila sekolah dapat memberikan pembangunan karakter kepada muridnya, maka akan tercipta pula murid berkarakter. Demikian pula sebaliknya. Kita faham Tuhan tidak merubah keadaan suatu kaum bial mereka tidak berusaha melakukan perubahan itu.


Lima pilar karakter luhur bangsa Indonesia:
a) Transendensi : Menyadari bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang maha Esa. Dari kesadaran ini akan memunculkan sikap penghambaan semata-mata pada Tuhan yang Esa.
b) Humanisasi : Setiap manusia pada hakikatnya setar di mat Tuhan kecuali ilmu dan ketakwaan yang membedakannya. Manusia diciptakan sebagai subyek yang memiliki potensi
c) Kebinekaan : kesadaran akan adanya sekian banyak perbedaan di dunia. Akan tetapi, mampu mengambil kesamaan untuk menumbuhkan kekuatan, Persatuan Indonesia
d) Liberasi : Pembebasan ats penindasan sesama manusia. Karenanya, tidak dibenarkan adanya penjajahan manusia oleh manusia.e) Keadilan : Keadilan merupakan kunci kesejahteraan. Adil tidak berarti sama, tetapi proporsional. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Referensi : Prof.Drs.H.Sukiyat.SH.MSi

STRATEGI PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER



Ø  STRATEGI PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER
Menyadari kelemahan pelaksanaan kebijakan pendidikan di Indonesia, maka perlu dibangun strategi pelaksanaan kebijakan pendidikan karakter yang diharapkan menjadi model implementasi kebijakan pendidikan karakter yang tepat dan memenuhi dua pendekatan. Social demand approach dan man power approach.

Kurikulum Holistik Berbasis Karakter
a. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta
b. Tanggung Jawab, kedisplinan,dan Kemandirian
c. Kejujuran
d. Hormat dan Santune. Kasih sayang, Kepedulian, dan Kerjasama 


Referensi : Prof.Drs.H.Sukiyat.SH.MSi
 

NILAI MORAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER



Ø  NILAI MORAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Dimensi Pendidikan Nilai Moral Pendidikan moral tidak berarti hanya memberi pengertian tentang mana yang baik dan mana yang buruk menurut nilai atau. Dalam dunia modern, orang kelihatan kurang mengindahkan agama, anak-anak dibesarkan dan menjadi dewasa, tanpa mengenal pendidikan agama,terutama pendidikan agama dalam rumah tangga.

Teori Perkembangan Moral Nilai Moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah dan benar (Berkowitz, 1964 dikutip Muhaimin, 2001 :215) Pertimbangan Moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Pendidikan Nilai Moral Pendidikan Moral adlah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen- komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan sekurang- kurangnya dengan empat gambar kepribadian.

John P. Miller ( 1976 :5) a. Pribadi yang terintregasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. b. Pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. c. Pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. d. Pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran.

Pendekatan Pendidikan Nilai Moral pendekatan kompprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Damiyati Zuchdi,( 2008 36 :37) Meliputi Pendekatan :
 a. Inculcating yaitu menanamkan nilai dan moralitas
b. Modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas.
c. Facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral
d. Skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif. 

Referensi : Prof.Drs.H.Sukiyat.SH.MSi

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA



Ø  PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA 

Hakikat Pendidikan Hakikat proses pendidikan adalah sebagai upaya untuk mengubah prilaku individu atau kelompok agar memiliki niilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

Hakikat Pendidikan adalah kemampuan dalam untuk mendidik diri sendiri. konteks ajaran islam hakikat pendidikan adalah mengembalikan nilai- nilai ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan bimbingan Al qur’an da assunnah (Hadits).sehingga menjadi manusia yang berakhlaqul karimah (insan kamil).

Hakikat Pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut  Pendidikan Merupakan proses interksi  Pendidikan manusiawi. merupakan usaha penyiapan  Pendidikan meningkatkan kualitas subjek.  Pendidikan berlangsung seumur hidup kehidupan pribadi dan masyarakat.

Menurut Prof. Richy dalam buku “Planing for Teaching and Introduction to Education” Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu bangsa (masyarakat) terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggung jawabnya dalam masyarakat. Pendidikan di Sekolah memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah merupakan hanya salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas  Anak itu mengalami suasana yang pendidikan anak. berbeda di Sekolah, ia bukan lagi anak istimewa yang diberi perhatian khusus oleh ibu guru, melainkan hanya seorang di antara puluhan murid lainnya di dalam kelas.

Kurikulum Berkarakter Kurikulum pendidikan yang berlaku dalam persekolahan di Indonesia telah mengalami berbagai penyempurnaan, terakhir dengan apa yang disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang merupakan implementasi dari kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peratuaran pemerintah No.19 Th 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan).

Pendidikan Melalui Keluarga Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Ada 2 macam :
1. Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga
2. Tujuan Sosialisasi dalam Keluarga

Referensi : Prof.Drs.H.Sukiyat.SH.MSi